Friday, June 19, 2015

Pagi di Tangga yang itu

Edit Posted by with No comments
--Langitku masih abu-abu ketika aku pertama kali melihatnya. Hatiku masih abu-abu ketika banyak orang mulai mengaguminya. Aku tak mengenalnya begitu pula dia tak mengenalku. Kita hanya dua orang yang tak sengaja bertemu dalam sebuah kesempatan. Kita tak pernah berniat untuk bersama, hanya tak sengaja takdir membawa kita untuk selalu bertemu. Kita mungkin akan sering berjumpa selama empat tahun kedepan, mungkin.--

Pagi hari itu matahari memancarkan cahayanya. Sungguh hangat. Awan berjejer rapi bak penjaga yang mengawal tuannya. Langit pagi itu biru berseri-seri. Aku menuruni tangga dari lantai paling atas menuju lantai satu. Sendirian, tapi selalu menyenangkan. Tangga yang akan aku turuni hampir habis. Aku memandang sekeliling. 

Aku melihat seseorang tengah duduk besama teman-temannya di bangku yang terletak tak jauh dari tangga. Entah kenapa aku merasa tertarik untuk terus memperhatikannya. Aku menuruni anak tangga sambil terus memandanginya. Melihat ia berbicara, tersenyum, juga tertawa. Aduh, ternyata ia melihatku. Bisa malu aku kalau dia tahu dari tadi aku terus memperhatikannya. Aku mengalihkan pandanganku dan bergegas pergi keluar.

Langkahku terasa ringan, mengalun bersama iringan angin. Entahlah, tapi aku benar-benar bahagia pagi itu. Tahu kenapa? Saat aku hendak memalingkan muka tadi aku melihatnya tersenyum. Kepadaku? Ya mana aku tahu. Melihatnya senyum saja sudah bahagia. Apalagi kalau aku tahu senyum itu untukku, bisa loncat-loncat kegirangan aku. Eh, tapi tidak sampai begitu juga sih. Tapi yang jelas aku pasti benar-benar senang.
bersambung.......